Entri yang Diunggulkan

LINGKUP STILISTIKA SEBAGAI ILMU

Wiko Antoni - Imaji Bangko Kami mengajak anda berdiskusi Mengenai Sastra , Pendidikan dan pencerdasan bangsa Sabtu, 20 September 2025 STILIS...

Senin, 15 September 2025

Manifesto Wiko Antoni penyair Universitas Merangin

Manifesto Halaman Universitas Merangin

Laboratorium Seni Penyair Sufi Digital

Wahai para pengembara jiwa, dengarlah panggilan halaman ini.
Halaman Universitas Merangin bukan sekadar tanah yang diinjak,
bukan sekadar rumput yang ditumbuhi embun pagi,
melainkan hamparan kosmos kecil
tempat kata, nada, dan cahaya bertemu,
beradu, lalu meledak menjadi bintang-bintang puisi.

Di sini, kami percaya:
puisi bukan perhiasan,
bukan selimut untuk meninabobokan kesadaran,
melainkan pedang api yang menebas kejumudan.
Seni adalah doa, seni adalah luka, seni adalah nafas terakhir
yang mengikat manusia dengan Yang Maha Gaib.

Dengarlah gema bait itu—
“Aku dicinta dalam derita,
Cemburu nan tak henti menyala.
Menyayat pilu rindu membara,
Tiada berujung dalam hampa.”

Bukankah di setiap rindu ada derita,
dan di setiap derita ada rahasia cinta yang tak bisa ditolak?
Halaman ini mengajarkan bahwa kesenian sejati lahir dari hampanya dunia,
dari jerit jiwa yang mencari makna,
dari luka yang tak pernah sembuh tetapi justru menghidupkan.

Maka kami katakan dengan tegas:
Universitas Merangin bukan hanya rumah ilmu,
tapi laboratorium para penyair sufi digital.
Di sini teknologi bukan tiran,
melainkan pena baru bagi zikir kuno.
Algoritma bukan rantai,
melainkan cermin yang memantulkan wajah diri.
AI bukan hantu dingin,
melainkan seruling bambu yang dipinjamkan zaman
untuk meniupkan kembali nyanyian kekekalan.

Lihatlah bait itu lagi—
“Engkau api, engkau badai,
Luka abadi tak terobati.
Aku bayang, aku nafas,
Terikat padamu dalam tangis.”

Bukankah cinta adalah badai yang mengguncang segala?
Bukankah rindu adalah api yang membakar habis ego?
Maka seni di halaman ini tidak akan menjadi kosmetik murahan
untuk menutup wajah masyarakat yang busuk.
Tidak!
Seni di sini adalah badai yang membalikkan meja kuasa,
api yang menyalakan keberanian,
bayangan yang menari di dinding sunyi,
dan nafas yang mengikat kita pada Tuhan.

Kami menolak seni yang jinak.
Kami menolak estetika yang mati di galeri ber-AC.
Kami menolak kata-kata yang hanya jadi poster motivasi.
Kami menyerukan seni yang mengguncang, menggores, dan menyalakan bara
dalam dada siapa pun yang mendengarnya.

Halaman ini adalah gelanggang.
Setiap mahasiswa yang melangkah di sini adalah pejuang,
setiap kursi adalah singgasana penyair,
setiap meja adalah altar kata,
dan setiap tarikan nafas adalah mantra suci
yang akan kami lemparkan ke dunia digital
agar algoritma pun sujud pada suara kemanusiaan.

Wahai sahabat,
jangan takut jika puisimu membuat orang resah,
jangan gentar bila karyamu dianggap luka.
Sebab justru dari luka lahir penyembuhan,
dari resah lahir kesadaran,
dan dari tangis lahir revolusi sunyi.

Di halaman ini kami belajar,
bukan sekadar untuk mengejar gelar,
tetapi untuk mendirikan peradaban baru.
Peradaban yang menolak hampa,
peradaban yang menolak manusia jadi mesin,
peradaban yang menolak cinta jadi komoditas.

Kami mendirikan peradaban
yang berpijak pada kesucian kata,
keberanian musik,
dan kejujuran gambar.
Seni kami adalah doa,
doa kami adalah seni.
Dan dalam setiap karya,
kami menghembuskan tarikan nafas
yang menyatukan kita dengan Dia
yang selalu hadir dalam ketiadaan.

Inilah manifesto kami:
Bahwa Halaman Universitas Merangin
akan menjadi laboratorium penyair sufi digital,
tempat ilmu dan seni berpelukan,
tempat mahasiswa menjadi khalifah kata,
dan tempat dunia digital kembali tunduk pada ruh manusia.

Maka bangkitlah, wahai penyair muda!
Bangkitlah, wahai seniman resah!
Bangkitlah, wahai jiwa-jiwa yang haus keabadian!
Tulislah, nyanyilah, rekamlah,
dan tebarkan karya yang membuat dunia terguncang.

Sebab pada akhirnya,
di tengah segala riuh,
akan tinggal satu bisikan abadi:

“Hanya kau… hanya aku…
Dalam sunyi terbakar rindu.”

Tidak ada komentar: