Entri yang Diunggulkan

KAULAH YUNIKU

ENGKAULAH YUNIKU SAYANG: Puisi Cinta yang Ditolak Kota, Dikenang Jiwa Kembara Sukma --- ๐Ÿงพ Abstract (English) This paper analyzes the poem E...

Sabtu, 30 Agustus 2025

KAULAH YUNIKU

ENGKAULAH YUNIKU SAYANG: Puisi Cinta yang Ditolak Kota, Dikenang Jiwa
Kembara Sukma

---

๐Ÿงพ Abstract (English)
This paper analyzes the poem Engkaulah Yuniku Sayang by Kembara Sukma as a poetic testimony of love that was socially rejected but spiritually preserved. Through an urban sociological lens, the poem reflects the tension between personal affection and public stigma in a transitional cityscape. Freud’s and Jung’s psychoanalytic theories are used to interpret the poem as a sublimation of trauma and a process of individuation. Peirce’s semiotic framework is applied to decode the symbolic structure of the poem. The study affirms that poetry can serve as a sanctuary for marginalized love and a mirror for urban emotional resistance.

---

1. Latar Kisah: Cinta yang Dibentuk oleh Kota dan Ditolak oleh Norma

Engkaulah Yuniku Sayang lahir dari pengalaman cinta yang tidak diberi ruang oleh norma sosial. Dalam lanskap semi-urban yang sarat pengawasan moral, cinta yang melawan arus sering kali dianggap sebagai ancaman. Tokoh dalam puisi ini mencintai seorang perempuan dari latar yang tidak diterima oleh masyarakat: dunia malam, spiritualitas alternatif, dan stigma keluarga.

Namun cinta itu bukan sekadar hasrat. Ia adalah bentuk pengorbanan, pembentukan, dan penyelamatan jiwa. Ketika cinta itu dipisahkan oleh tekanan sosial dan intervensi gaib, sang tokoh tidak membalas dengan dendam, melainkan dengan puisi. Ia menulis bukan untuk menjelaskan, tapi untuk menyimpan sejarah jiwa yang tak bisa dijelaskan secara terang.

Dalam pendekatan sosiologi urban, puisi ini mencerminkan segresi moral dan konflik nilai yang sering terjadi di kota-kota kecil yang sedang mengalami transisi budaya. Kota bukan hanya ruang fisik, tapi juga medan penghakiman, di mana cinta bisa menjadi korban dari sistem yang menolak kompleksitas jiwa.

---

2. Analisis Psikoanalitik: Freud dan Jung

๐Ÿ”ฅ Freud: Sublimasi dan Represi
Puisi ini adalah bentuk sublimasi dari trauma cinta yang tidak bisa dijalani secara sosial. Dalam teori Freud, puisi menjadi saluran bagi dorongan bawah sadar yang ditekan oleh norma. Cinta yang tidak bisa diungkapkan secara terang, akhirnya muncul dalam bentuk simbolik: bunga layu, matahari pagi, ruam luka.

Freud juga menyatakan bahwa id, ego, dan superego saling berperan dalam konflik batin. Dalam puisi ini, kita melihat ego sang tokoh berusaha menengahi antara keinginan untuk kembali dan realitas bahwa cinta itu telah dilepaskan. Puisi menjadi mekanisme pertahanan jiwa, seperti sublimasi dan proyeksi, untuk mengatasi kecemasan dan rasa kehilangan.

๐ŸŒŒ Jung: Anima dan Individuasi
Carl Jung melihat puisi sebagai perwujudan dari arketipe jiwa, terutama dalam pertemuan dengan anima—sisi feminin dalam jiwa laki-laki. Sosok perempuan dalam puisi ini bukan hanya tokoh nyata, tapi juga simbol dari anima yang membentuk dan menyembuhkan. Mimpi-mimpi tentang rumah sepi, jalan yang terlupa, dan kehilangan adalah manifestasi dari bayangan jiwa yang sedang mencari penyatuan.

Puisi ini menjadi bagian dari proses individuasi, di mana sang tokoh menyatukan kesadaran dan ketidaksadaran, luka dan cinta, masa lalu dan masa kini.

---

3. Pendekatan Semiotik: Charles Sanders Peirce

Dalam teori semiotik Peirce, puisi ini mengandung:

- Ikon: Imaji visual seperti “bunga layu”, “matahari pagi”, dan “ruam luka” sebagai representasi langsung dari perasaan.
- Indeks: Kalimat seperti “Aku menadah ludah ini di hatimu nan tak mampu ku beri” menunjukkan hubungan kausal antara tindakan dan luka batin.
- Simbol: Frasa “Engkaulah Yuniku Sayang” adalah simbol dari cinta yang tidak bisa dijelaskan, tapi tetap hidup sebagai makna spiritual.

Puisi ini bukan hanya teks. Ia adalah sistem tanda yang menyimpan sejarah jiwa, luka, dan keberanian untuk tetap mencinta. Ia menjadi arsip spiritual yang menolak dilupakan, bahkan ketika dunia menolak mengakuinya.

---

๐Ÿ–‹️ Biodata Penulis

Nama Pena: Kembara Sukma  
Tempat Tinggal: Tabir, Jambi, Indonesia  
Bidang: Sastra, Pendidikan, Seni Digital, Filsafat Jiwa Melayu

Kembara Sukma adalah penulis yang menulis dari ruang batin yang sunyi, dari luka yang tidak bisa dijelaskan, dan dari cinta yang tidak bisa dimiliki secara sosial. Ia percaya bahwa puisi bukan hanya estetika, tapi pengembaraan jiwa yang tak terlihat oleh dunia.

Di balik nama pena ini, terdapat “shadow self”—sisi diri yang samar, yang tidak selalu bisa dijelaskan secara terang. Ia adalah bagian dari jiwa yang pernah mencinta dalam diam, yang pernah ditolak oleh struktur sosial, dan yang kini memilih untuk menulis sebagai bentuk perlawanan terhadap penghapusan jiwa.

---

๐Ÿ“š Daftar Pustaka

1. Agustiani, Ersha. Potret Masyarakat Urban dalam Antologi Puisi Di Atas Viaduct. Universitas Pendidikan Indonesia.  
   https://repository.upi.edu/53164

2. Rahayu, Ika Sari. Analisis Semiotika Puisi Chairil Anwar dengan Teori Peirce. Universitas Bunda Mulia.  
   https://journal.ubm.ac.id/index.php/semiotika/article/viewFile/2498/2088

3. Lesmana, Aditya. Analisis Teori Sastra dalam Konteks Psikologi Jungian. Kompasiana.  
   https://www.kompasiana.com/adityalesmana4434/671a51a434777c26344e4044

4. Retizen Republika. Cinta dalam Teori Sosiologi.  
   https://retizen.republika.co.id/posts/230760/cinta-dalam-teori-sosiologi

5. Freud, Sigmund. The Interpretation of Dreams. Translated by James Strachey. Basic Books, 2010.

6. Jung, Carl Gustav. Man and His Symbols. Dell Publishing, 1964.

7. Peirce, Charles Sanders. Collected Papers of Charles Sanders Peirce. Harvard University Press, 1931–1958.

8. https://www.facebook.com/share/p/1Bq971xWjT/


Tidak ada komentar: